Kamis, 21 April 2011

Kebiasaan Akhlaq Terpuji

AKHLAQ MUSLIM SEJATI
Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa suatu umat yang bisa bangkit dan tegak, maju dan cemerlang peradabannya, adalah karena pribadi-pribadi mereka memiliki jiwa yang kuat, tekad yang bulat, cita-cita yang luhur, akhlak yang terpuji, perjalanan hidup yang mulia, saling berhubungan dengan erat di antara mereka dan keluarga mereka. Mereka menjauhi hal-hal yang merusak, perbuatan-perbuatan hina dan buruk, tidak melampiaskan nafsu mereka dalam segala kelezatan dan syahwat, jauh dari kejahilan dan penyimpangan.
Akhlak mulia merupakan salah satu asas terpenting dalam ajaran Islam untuk membina pribadi dan memperbaiki masyarakat. Karena keselamatan masyarakat, kekuatan, kemuliaan, dan kewibawaan pribadi-pribadinya sangat tergantung pada sejauh mana mereka berpegang dengan akhlak mulia tersebut. Dan masyarakat akan hancur dan rusak tatkala mereka meninggalkan dan menjauhi akhlak yang terpuji.
Allah telah memberikan Islam berbagai keistimewaan tersendiri yang menakjubkan, seperti ajarannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sifat wasathiyyah yaitu tengah-tengah antara sifat ifrath (ghuluw/berlebihan) dan sifat tafrith (lalai dan meremehkan), serta senantiasa aktual dan sesuai untuk setiap waktu dan tempat
Maka dengan karunia Allah, Islam menjadi petunjuk dan pembimbing bagi manusia, petunjuk menuju jalan kebahagiaan, kebaikan, kegembiraan dan kesenangan di dunia dan akhirat.
Dan kita dapati semua itu dalam ajaran Islam, karena Islam mengarahkan setiap pribadi manusia untuk membina fisik dan jiwanya secara sempurna dan seimbang, tidak timpang pada salah satunya. Islam menyeru agar mereka berpegang dengan akhlak mulia dan mendakwahkannya, dan agar mereka meninggalkan serta menjauhi segala akhlak yang buruk
Ajaran akhlak yang mulia ini telah diperlihatkan oleh suri teladan umat ini yaitu Rasulullah yang telah disifati oleh Allah dengan firman-Nya,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang mulia" (QS. Al Qalam: 4)
Sa'ad bin Hisyam pernah bertanya kepada 'Aisyah rodhiAllahu 'anha tentang akhlak Rasulullah, maka 'Aisyah rodhiAllahu 'anha menjawab, "Akhlak beliau adalah Al Quran." Lalu Sa'ad berkata, "Sungguh saya ingin berdiri dan tidak lagi menanyakan sesuatu yang lain." (HR. Muslim)
Oleh karena itu, Rasulullah merupakan sosok pribadi yang paling bagus akhlaknya seperti yang disaksikan oleh Anas bin Malik pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun-ketika beliau berkata;
"Rasulullah adalah orang yang paling bagus akhlaknya." (HR. Muslim)
Maka pantaslah Rasulullah menjadi suri teladan bagi kita dalam segala aspek kehidupan beliau shollAllahu 'alaihi wa sallam seperti yang telah diberitakan oleh Allah dalam firman-Nya,
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Allah dan (keselamatan di) hari akhir dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21)
Dan Rasulullah sendiri telah memotivasi umatnya yang beriman untuk berpegang teguh dengan akhlak yang bagus dan menjauhi akhlak yang buruk, seperti dalam sabda-sabda beliau berikut ini:
Dari Abu Darda' bahwa Nabi bersabda:
((ما من شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله تعالى ليبغض الفاحش البذيء))
"Tiada suatu perkara yang paling memberatkan timbangan (kebaikan) seorang mukmin pada hari kiamat selain daripada akhlaq mulia, dan sesungguhnya Allah amat benci kepada seorang yang buruk perbuatan dan ucapannya" (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh al Albani)
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab,
تقوى الله وحسن الخلق
"Bertakwa kepada Allah dan berakhlak mulia"
Sementara ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab,
الفم والفرج
"Mulut dan kemaluan" (HR. Tirmidzi dan dihasankan sanadnya oleh Syaikh Albani)
Dan Rasulullah menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling sempurna akhlaknya, seperti yang beliau sabdakan,
إن أكمل المؤمنين إيمانا أحسنهم خلقا، وخياركم خياركم لنسائهم
"Sesungguhnya mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya"(HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Bahkan Rasulullah telah menjadikan orang-orang yang berakhlak mulia sebagai orang-orang yang paling dekat duduknya dengan Rasulullah sebagaimana dalam sabdanya,
إن من أحبكم إلي وأقربكم مني مجلسا يوم القيامة أحسنكم أخلاقا، وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني مجلسا يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون، قالوا: يا رسول الله، قد علمنا الثرثارون والمتشدقون فما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya, dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah tsartsarun (yang banyak bicara), mutasyaddiqun (yang bicara sembarangan lagi mencela manusia) dan mutafaihiqun.” Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui tsartsarun dan mutasyaddiqun, tapi siapakah mutafaihiqun itu?" Rasulullah menjawab, "Mutakabbirun" (orang-orang yang sombong)." (HR. Tirmidzi dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Namun, problem yang amat jelas kita lihat di dunia Islam sekarang yaitu bahwa umat Islam telah meninggalkan akhlak mulia yang diseru oleh agama mereka sendiri yang bersumber dari Al Kitab dan As Sunnah.
Kita melihat bahwa agama Islam berada di suatu tempat dan kaum muslimin berada di tempat lain yang berjauhan. Seorang muslim hanya membawa Islam pada nama dan KTP-nya saja. Tetapi dalam praktek keseharian, muamalah dan seluk beluknya tidak didapati nilai-nilai ajaran Islam yang mulia tersebut.
Arahan-arahan Islam tidak berlaku, norma-normanya tidak memiliki tempat, dan kaidah-kaidah Islam tidak lagi terhormat dalam diri mereka. Demikianlah kenyataan yang memilukan yang menimpa umat Islam, yang semakin hari sepertinya semakin jauh dan lalai dari mempraktekkan nilai-nilai agama mereka yang mulia, sehingga pantas pula jika umat Islam mengalami berbagai bencana hari demi harinya, kekalahan-kekalahan di setiap tempat mereka, serta ketertinggalan dari umat-umat yang lain. Umat Islam sepertinya tidak lagi memiliki 'izzah (kemuliaan dan kewibawaan) yang dapat membuat umat-umat lain segan kepada mereka. Itu semua karena umat Islam tidak berpegang teguh dengan nilai-nilai ajaran agama mereka. Benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab,
إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله
"Kita dahulu adalah kaum yang terhina lalu Allah memuliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya niscaya Allah akan menghinakan kita"
(HR. Hakim dan ia berkata, "Shahih sesuai syarat/standar Bukhari dan Muslim”, dan disahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih at Targhib wa at Tarhib)
Dan kaum muslimin akan tetap berada dalam kehinaan selama mereka meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang agung lagi mulia dan cenderung mengikuti hawa nafsu dalam meraih kemewahan dunia sampai mereka mau kembali kepada agama mereka.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
((إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينـزعه حتى ترجعوا إلى دينكم))
"Apabila kalian berjual beli dengan 'inah (riba), memegangi ekor-ekor sapi dan senang dengan cocok tanam (yakni lebih condong kepada kesenangan dunia), serta meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian yang tidak akan Allah cabut sampai kalian mau kembali kepada agama kalian."
(HR. Abu Daud dan disahihkan oleh Syaikh Albani)
Maka sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk bangkit dengan kembali kepada ajaran-ajaran agama mereka yaitu Islam yang lurus, agar mereka dapat kembali memperoleh 'izzah (kemuliaan dan kewibawaan) seperti yang telah diraih oleh pendahulu mereka Salafus Shalih sehingga mereka akan menjadi umat yang kuat dan kokoh yang disegani oleh umat-umat lainnya. Tentunya yang paling penting adalah menggali kembali nilai-nilai mulia Islam tersebut dengan mempelajari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta sirah kehidupan Salafus Shalih yang telah mewariskan jejak-jejak mulia yang harus kita telusuri dan ikuti, di antaranya adalah warisan akhlak yang baik dan mulia. WAllahul Muwaffiq. (Dari Tauthi'ah pentahkiq kitab Makarimul Akhlaq karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan perubahan-).

Definisi Akhlaq
Akhlaq (أَخْلاَقٌ) menurut etimologi bahasa Arab adalah bentuk jamak dari khuluq (خُلُقٌ) yang di antaranya berarti jalan hidup/adat kebiasaan, tabiat dan perangai.
(Ibnul Atsir dalam Gharibul Hadits). (Dari Ridalah Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20 Syaikh Abdul Muhsin al Abbad).
Sedangkan menurut istilah ia mengandung dua makna, salah satunya lebih umum dari yang lain, yaitu:
Sifat yang tertanam dengan kokoh dalam setiap jiwa, baik yang terpuji maupun tercela.
(Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20 Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan ungkapan lain yaitu: Gambaran batin yang telah ditabiatkan kepada manusia. (Kitabull Ilmi hal. 256 Syaikh Ibnu Utsaimin).
Sifat yang berwujud sikap berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat, baik berupa perintah yang harus/perlu dikerjakan atau larangan yang harus/perlu ditinggalkan.
(Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 20� Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad) atau dengan kata lain bahwa jenis kedua ini dapat dihasilkan dengan usaha dan latihan yang diupayakan oleh manusia. (Kitabul Ilmi hal. 256 Syaikh Ibnu Utsaimin).
Jadi, akhlak itu ada yang berupa tabiat dan perangai yang telah ditanamkan oleh Allah pada setiap jiwa manusia dan bersifat umum, meliputi perangai yang terpuji dan tercela.
Dan ada pula yang berupa sifat yang diusahakan dengan mempelajari dan berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat dan ini lebih khusus dari yang pertama
Contoh jenis pertama adalah seperti apa yang dikatakan Nabi kepada Asyaj Abdul Qais,
إن فيك لخلقين يحبهما الله: الحلم والأناة، فقال: أخلقين تخلقت بهما ؟ أم خلقين جبلت عليهما ؟ فقال: ((بل خلقان جبلت عليهما))، فقال: الحمد لله الذي جبلني على خلقين يحبهما الله تعالى.
"Sesungguhnya ada pada dirimu dua perangai yang disukai oleh Allah yaitu santun dan hati-hati (tidak tergesa-gesa)." Asyaj berkata, "Apakah dua perangai tersebut adalah yang kuupayakan atau yang ditabiatkan kepadaku?" Nabi menjawab, "Dua perangai yang telah ditabiatkan kepadamu." Maka Asyaj pun berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menabiatkan dua perangai yang Allah sukai."
(HR. Abu Daud dengan lafaz yang mendekati- dan lafal ini dinukil dari Syarah al Aqidah ath Thahawiyah serta disahihkan oleh Syaikh Albani. Dan bagian pertama asalnya ada dalam Shahih Muslim juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan selainnya). (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 256).
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa hadits ini menjadi dalil yang menunjukkan adanya akhlak terpuji yang berupa tabiat asal yang diberikan oleh Allah kepada diri seseorang dan ada yang diupayakan. Dan bahwa yang merupakan tabiat itu lebih utama daripada yang diupayakan. (Kitabul Ilmi 256).
Adapun contoh jenis kedua adalah apa yang terisyaratkan dalam sabda beliau,
البر حسن الخلق
"Kebaikan itu (terletak pada) akhlak yang bagus/mulia" (HR. Muslim)
Dan seperti dalam jawaban 'Aisyah rodhiAllahu 'anha ketika menafsirkan firman Allah,
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Ia menjawab, "Akhlaknya (Rasulullah) adalah Al Quran" (HR. Muslim) (Min Akhlaq ar Rasul al Karim hal. 21).
Dan tentunya yang kita bahas adalah akhlaq yang terpuji.

Aspek Cakupan Akhlak
Banyak orang yang memahami dan mengira bahwa akhlak mulia itu hanya menyangkut hubungan dengan makhluk yang lain dan tidak menyangkut hubungan dengan Khalik (Allah). Namun itu merupakan pemahaman yang salah, karena akhlak mulia ini juga mencakupi hubungan dengan Khalik (Allah) sebagaimana mencakupi hubungan dengan makhluk.
Adapun yang menyangkut hubungan dengan Allah, maka terangkum dalam tiga hal pokok yaitu:
Membenarkan segala kabar berita dari Allah
Melaksanakan dan merealisasikan hukum-hukumNya.
Bersabar dan ridho terhadap takdir Allah.
1. Membenarkan segala berita dari Allah
Artinya bahwa seseorang tidak boleh ragu dan bimbang terhadap kebenaran berita dari Allah, karena Allah subhanahu wa ta'ala tidaklah memberitakan sesuatu melainkan atas dasar ilmu-Nya lagi Dia adalah Yang paling benar perkataannya sebagaimana firman-Nya,
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثًا
"Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah" (QS. An Nisaa: 87)
Dengan akhlak ini seseorang bisa membela segala berita yang bersumber dari Allah dan menjawab semua syubhat, baik dari kalangan kaum muslimin yang mengadakan bid'ah dalam agama maupun dari luar kaum muslimin. Demikian pula terhadap kabar berita dari Rasulullah, maka seseorang juga harus meyakini kebenarannya apalagi kalau itu adalah berita tentang perkara gaib yang sudah jelas bahwa beliau tidak mengatakannya kecuali dari wahyu Allah. Allah berfirman menceritakan Rasul-Nya,
وَمَايَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" (QS. An Najm: 3-4)
Sebagai contoh bahwa beliau pernah bersabda,
((إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء))
"Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah satu dari kalian maka celupkanlah (lalat tersebut) kemudian buanglah, karena pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap yang lainnya ada penawar" (HR. Bukhari)
Maka dalam hadits ini terdapat berita dan termasuk perkara gaib yang tidak mungkin beliau mengatakannya dari diri beliau sendiri tanpa wahyu dari Allah. Karena beliau adalah manusia yang tidak mengetahui perkara gaib kecuali apa yang diwahyukan kepada beliau. Bahkan Allah yang memerintahkan Rasul-Nya,
قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيّ
Katakanlah, "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku" (QS. Al An'am: 50)
Maka berita Rasulullah di atas harus disikapi dengan akhlak mulia yaitu dengan menerimanya sepenuh hati bahwa apa yang diberitakan oleh Rasulullah adalah haq dan benar meskipun ada orang-orang yang membantahnya. (Lihat Kitabul Ilmi 257-258).
2. Melaksanakan dan Merealisasikan Hukum-hukum Allah
Akhlak seseorang terhadap hukum-hukum Allah adalah dia harus menerimanya lalu melaksanakan dan merealisasikannya. Tidak menolak satu pun hukum Allah. Jika seseorang menolaknya maka itu merupakan bentuk akhlak yang buruk terhadap Allah yang telah menciptakannya.
Dan penolakan ini mencakupi pengingkaran terhadap hukum tersebut, tidak mau mengamalkannya dengan kesombongan atau meremehkan pengamalannya.
Misalnya ibadah shiyam (puasa) yang dirasa berat bagi seseorang, karena dia harus meninggalkan hal-hal yang disukainya dan dibutuhkannya seperti makan, minum dan jima'. Tetapi seorang mukmin yang bagus akhlaknya terhadap Rabbnya ia akan menerima beban berat tersebut dengan lapang dada dan tenang, maka ia pun menjalani hari-hari panjang yang panas dalam keadaan ridho dan lapang dadanya, karena dia orang yang berakhlak bagus terhadap Rabbnya. Berbeda halnya dengan yang buruk akhlaknya terhadap Allah maka ia akan mengeluh dan tidak menyukai ibadah ini. Dan kalaulah bukan karena kekhawatirannya terhadap suatu akibat buruk tentulah dia tidak akan menunaikan shiyam. (Lihat Kitabul Ilmi 259).
3. Bersabar dan Ridho terhadap Takdir Allah
Kita semua mengetahui bahwa takdir Allah yang berlaku pada setiap hamba itu ada yang menyenangkan menurut hamba tersebut dan ada yang tidak.
Misalnya setiap orang menginginkan sehat dan tidak menginginkan sakit. Tetapi Allah menakdirkan dengan hikmah-Nya untuk memvariasikan dua keadaan tersebut pada setiap manusia. Maka seperti apa akhlak yang mulia terhadap Allah dalam masalah takdir-Nya ini?
Yaitu seseorang harus ridho dengannya dan tenang menerimanya. Dan meyakini bahwa tidaklah Allah menakdirkan itu semua melainkan untuk suatu hikmah dan tujuan yang terpuji. Oleh karena itu Allah memuji orang-orang yang bersabar ketika ditimpa musibah dan mengucapkan kalimat istirja' dalam firman-Nya,
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar." (QS Al Baqoroh: 155) (Lihat Kitabul Ilmi hal. 256-262 �secara ringkas dan dengan perubahan-).

Di antara bentuk-bentuk akhlak mulia terhadap Allah juga adalah sebagai berikut:
a. Ikhlas
Yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah seperti yang Allah firmankan,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah: 5)
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصاً لَهُ الدِّين َ، أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (QS. Az Zumar: 2-3)
Di antara ciri ikhlas adalah seseorang mengerjakan ibadah dengan kontinu dan tetap istiqomah dalam ibadahnya tersebut. Seperti diisyaratkan dalam sabda Nabi sholallohu 'Allahi wasallam,
استقيموا و لن تحصوا و اعلموا أن خير أعمالكم الصلاة و لا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن
"Istiqamahlah sampai tak terhingga, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat, dan tidak ada yang memelihara wudhu kecuali mukmin." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Albani)
Dan hadits:
إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان
"Jika kalian melihat seseorang membiasakan diri (shalat di) masjid, maka saksikanlah bahwa ia seorang mukmin"
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Dan ada kelemahan pada sanadnya meskipun maknanya sahih sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Albani dalam ta'liq/catatan beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin pada hadits no. 1067) (Makarimul Akhlaq hal. 27-28).
b. Takwa
Sesuai perintah Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُوراً تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ.
"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian" (QS. Al Hadid: 28)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar" (QS. Al Ahzab: 70) (Makarimul Akhlaq hal. 35-36).
c. Rasa Malu
Sifat malu yang dimaksud adalah yang bisa mencegah seseorang dari berlaku buruk dan maksiat kepada Allah. Oleh karena itu Nabi menggolongkan sifat malu seperti ini sebagai bagian dari keimanan dalam sabdanya,
الحياء من الإيمان
"Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim) (Makarimul Akhlaq hal. 73).
d. Taubat
Taubat adalah di antara bentuk ibadah yang agung, yang maknanya adalah seseorang kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya setelah berbuat salah dan dosa. Sebesar apapun dosa dan kesalahan hamba, bila dia bertaubat kepada Allah niscaya Allah akan mengampuninya dan menghapus dosanya tersebut. Allah berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya" (QS. Az Zumar: 53-54)
Bahkan meskipun itu dosa kekafiran, jika seorang kafir meninggalkan kekafirannya dan menuju Islam, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. Allah berfirman,
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ….
"Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka berhenti (dari kekafirannya) niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang terdahulu" (QS. Al Anfal: 38)
Dan Nabi pernah berkata kepada 'Amr bin al 'Ash yang dahulunya termasuk pembesar orang-orang kafir,
يا عمرو: أما علمت أن الإسلام تجب ما كان قبله
"Wahai 'Amr, tidakkah kau tahu bahwa Islam akan menutupi (dosa-dosa) yang terdahulu" (HR. Muslim) (Makarimul Akhlaq hal. 103-105).
Dan lain sebagainya.
Adapun akhlak mulia terhadap sesama makhluk khususnya terhadap sesama Muslim, maka telah didefinisikan oleh Hasan al Bashri rahimahulloh yang menyatakan bahwa akhlak mulia itu adalah:
كف الأذى، وبذل الندى، وطلاقة الوجه
"Tidak menyakiti, ringan tangan (suka menolong) dan bermuka manis terhadap yang lain"
Maka dalam perkataan beliau terdapat tiga hal pokok yang merupakan akhlak mulia terhadap sesama makhluk, yaitu:
1. Tidak menyakiti orang lain.
Baik terkait dengan harta, jiwa maupun harga dirinya. Barang siapa yang tidak bisa menahan diri dari menyakiti orang lain maka berarti dirinya berakhlak buruk. Padahal Rasulullah telah menyiarkan hal ini di hadapan kumpulan yang terbesar dari umatnya yaitu ketika haji wada' dengan sabdanya,
إن دماءكم، وأموالكم، وأعراضكم، عليكم حرام، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا
"Sesungghnya darah, harta dan harga diri kalin itu haram (terhormat), seperti terhormatnya hari, bulan dan negeri kalian ini" (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jika seseorang berkhianat dalam harta orang lain, memukul dan berbuat jahat terhadap orang lain atau mencela harga diri dan menggunjing orang lain, berarti dia bukan seorang yang berakhlak mulia terhadap sesama. Misalnya berlaku buruk terhadap tetangga, maka Nabi telah mengatakan tentang orang yang berlaku demikian dalam sabdanya,
والله لا يؤمن، والله لا يؤمن، والله لا يؤمن. قيل: من يا رسول الله؟ قال: الذي لا يأمن جاره بوائقه. رواه البخاري ومسلم، وفي رواية لمسلم .لا يدخل الجنة من لا يأمن جاره بوائقه. �والبوائق هي الشرور-.
"Demi Allah tidaklah seorang beriman (3x)." Beliau ditanya, "Siapakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Yaitu yang tetangganya tidak merasa aman dengan kejahatannya." Dalam riwayat Muslim: "Tidak akan masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya" (Kitabul Ilmi hal. 262, 263).
Dan seorang muslim yang dapat menahan diri dari menyakiti orang lain dengan lidah maupun anggota badannya, maka ia adalah muslim sejati, sebagaimana sabda Nabi,
المسلم من سلم الناس من يده ولسانه…
"Muslim (sejati) adalah yang orang lain selamat dari (gangguan) tangan dan lidahnya" (Muttafaqun 'alaihi) (Ushul al Manhaj al Islami hal. 541).
2. Ringan tangan (suka menolong/dermawan).
Sifat menolong dan dermawan bukan hanya dengan harta, tetapi meliputi pengorbanan jiwa, kedudukan dan harta. Jika seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu dalam mengarahkan urusan mereka, menebarkan ilmu dan membagi-bagikan hartanya kepada manusia, maka kita menyifati dirinya sebagai orang yang berakhlak mulia karena dia telah berkorban dalam hal-hal tersebut.
Nabi bersabda,
اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن
"Bertakwalah kepada Allah di manapun kau berada, dan susullah keburukan itu dengan kebaikan, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia"
(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Darimi dan dihasankan derajatnya oleh Syaikh Albani)
Maka jika seseorang dizalimi atau diperlakukan buruk oleh orang lain maka lebih baik memaafkannya. Karena Allah memuji orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dalam firman-Nya tentang sifat penghuni surga,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134)
Allah juga berfirman,
وأن تعفوا أقرب للتقوى
"Dan kamu memaafkan itu lebih dekat kepada ketakwaan" (QS. Al Baqoroh: 134)
Demikian pula dalam firman-Nya,
فمن عفا وأصلح فأجره على الله
"Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah" (QS. Asy Syura: 40)
Artinya bahwa memaafkan kesalahan orang lain termasuk bentuk menolong, karena dengannya telah menggugurkan tanggungan dosa atau kafarah dari orang tersebut.
3. Adapun bermuka manis, artinya seseorang menampakkan wajah yang ceria dan berseri di hadapan orang lain. Nabi pernah bersabda,
لا تحقرن من المعروف شيئا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق
"Janganlah kamu meremehkan sedikit pun perkara makruf/kebaikan, walaupun sekedar bertemu saudaramu dengan wajah berseri" (HR. Muslim)
Karena wajah ceria dan berseri membuat orang yang ditemui merasa senang, dan dapat mendatangkan kecintaan dan membuat hati lega, baik hatinya maupun hati orang lain
Dan di antara akhlak mulia yang harus diketahui oleh seseorang adalah mempergauli orang-orang dekatnya dengan pergaulan yang baik, seperti teman-temannya, karib kerabatnya, keluarganya. Yaitu dengan tidak merasa sempit/tertekan bersama mereka atau tidak menyempitkan dan menekan mereka, namun semestinya ia bisa membuat mereka senang dalam batasan-batasan syariat Allah
Nabi bersabda,
خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku daripada kalian" (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Albani)
Dan diantara yang paling berhak mendapatkan pergaulan yang baik dari seseorang adalah orang tuanya, terutama ibunya. Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu bertanya,
يا رسول الله، من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أمك))، قال: ثم من؟ قال: ((أبوك)). رواه البخاري ومسلم
"Siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Maka Nabi menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu." Lalu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ayahmu." (HR. Bukhari dan Muslim) (Kitabul Ilmi 263-268).
Dan sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa akhlak mulia itu ada yang berupa tabiat asal yang diberi oleh Allah dan ada yang dihasilkan melalui jalur usaha dan upaya. Dan bahwa yang berupa tabiat lebih sempurna daripada yang diupayakan.
Sedang yang diperoleh dari jalur usaha bisa jadi seseorang terluput dalam banyak hal, karena ia perlu melatihnya dan bekerja keras serta perlu senantiasa ada pengingat di saat ada hal yang membuat seseorang goyah atau bergejolak dalam dirinya. Seperti ketika seseorang datang kepada Nabi dan meminta wasiat kepada beliau, maka Nabi mengatakan kepadanya,
لا تغضب
"Janganlah kamu marah"
"Orang tersebut mengulang-ulang permintaan wasiatnya, dan Nabi tetap menjawab demikian." (HR. Bukhari)
Nabi juga pernah bersabda,
ليس الشديد بالصرعة، وإنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب
"Orang yang kuat bukanlah yang bisa mengalahkan (lawannya), tetapi orang yang bisa menguasai dirinya di saat marah" (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka menahan amarah dan menguasai diri di saat marah termasuk akhlak yang mulia. Dan Nabi telah memberikan penawar marah, yaitu jangan melampiaskan marah tersebut, lalu berlindung kepada AllohAllah syaitan yang terkutuk (HR Tirmidzi).
"Jika dia sedang berdiri maka hendaknya duduk dan jika belum hilang juga maka hendaknya berbaring" (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
Dan untuk memperoleh akhlak mulia dengan jalur usaha maka seseorang memerlukan hal-hal berikut:
1. Menelaah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang banyak memuat tentang pujian terhadap akhlak mulia
Dengan demikian diharapkan seseorang terdorong untuk mengerjakannya.
2. Memilih teman-teman yang baik, shalih dan bisa dipercaya perbuatan dan amanah mereka. Karena Nabi pernah bersabda,
إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد ريحا خبيثة
"Sesungguhnya perumpamaan teman baik dan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Maka penjual minyak wangi bisa jadi memberimu, atau kamu membeli darinya atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau wanginya. Sedangkan pandai besi bisa jadi akan membakar bajumu atau (paling tidak) kamu mendapatkan bau tak sedapnya" (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka hendaknya seseorang memilih teman-teman yang berakhlak mulia dan jauh dari akhlak buruk.
3. Memperhatikan akibat buruk dari akhlak tercela.
Orang yang berakhlak buruk dibenci, dijauhi serta dicela. Maka jika seseorang mengetahui akibat buruk dari akhlak yang tercela maka ia akan menjauhinya. (Kitabul Ilmi hal. 269-271).

Penulis asli: Ustadz Arif Syarifuddin
Referensi:
Makarimul Akhlaq, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Kitab al Ilmi, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin.
Min Akhlaq ar Rasul al Karim, oleh Syaikh Abdul Muhsin al Abbad.
Ushul al Manhaj al Islami, oleh Syaikh Abdurrahman al Ubayyid.
Terimakasih telah mampir ke blog ini